Sabtu, 06 Maret 2010

Samarinda


WARGA paling bahagia itu bagaimana ya? Seorang teman bercerita menggebu-gebu tentang sebuah konsep membangun Kota Samarinda. Dibenaknya, pemimpin yang sekarang adalah gagal. Indikasinya; banjir.
Saya terkejut. Banjir yang sering terjadi di kota itu ternyata telah menutup semua hal baik yang dilakukan pemimpin kota itu. Sebutlah berobat gratis dan rawat inap di Kelas III rumah sakit dan Puskesmas, tunjangan melahirkan, tunjangan kematian dan pendidikan gratis (kebetulan sudah diberlakukan secara nasional).
Si teman tadi bercerita pula tentang bagaimana menata kota agar nampak indah dan bersih. Membuat warga betah tinggal di kota itu. Tapi saat ditanyakan bagaimana konsepnya, dia tidak pernah mampu menguraikan tapi buntut-buntutnya kembali memaki kepemimpinan yang ada.
Ach, rupanya sebagian warga Kota Samarinda sudah terlanjur paranoid dengan pemimpin yang ada sekarang. Ketika melintas di jalan melihat jalan berlobang, kotor oleh sampah dan lumpur, kaki lima tidak tertata, pikiran langsung tertuju kepada pemimpin kotanya.
Tidak ada lagi pujian atas keberhasilan pengembangan kota. Keberhasilan meminimalisir korupsi karena pada pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk) tidak dipungut biaya alias gratis, keberhasilan menolong si miskin yang dalam kesusahan saat menyambut kelahiran bayi, keberhasilan membantu orang yang sedang dalam kesusahan ditinggal meninggal oleh orang yang dikasihinya.
Lebih terkejut lagi ketika saya mendapat bacaan bahwa saat ini; warga yang paling bahagia di seluruh dunia adalah Denmark. Dari 97 negara yang disurvei, ternyata warga Denmark yang paling berbahagia. Kemudian disusul Puerto Rico dan Kolombia.
Negara terkaya di dunia Amerika Serikat berada di posisi ke-16. Malah di belakang Swis, Kanada dan Swedia. Itu memberikan kesan, di negeri super power sekalipun belum tentu membuat warganya berbahagia. Rusia, Irak dan Zimbabwe berada di posisi buncit alias rendah tingkat kebahagiaan rakyatnya.
Apa kunci keberhasilan Denmark membuat bahagia warganya. Ternyata terletak dari keberanian pemerintahnya memberikan jaminan hidup mulai dari lahir sampai kematian. Pendidikan dan berobat gratis, bahkan kuliah digaji. Rakyat di sana tidak keberatan untuk semua itu harus dipotong 50 persen penghasilannya.
Samarinda sebenarnya juga telah merintis kebijakan yang ditempuh Denmark tersebut. Sayangnya belum ada survei yang mengukur apakah masyarakat di kota itu berbahagia dengan adanya program itu. Akibatnya, kebijakan yang bagus pun tenggelam oleh hal-hal buruk seperti banjir, lingkungan kotor dan jalan berlubang.
Padahal, kalau mau jujur, keberhasilan pemimpin adalah bagaimana ia bisa membuat kebahagiaan sebesar-besarnya kepada rakyat. Kebahagiaan yang lahir karena ada jaminan hidup tidak terlantar sejak lahir sampai hari tua. **

Tidak ada komentar: